Langsung ke konten utama

Medical Information

Info Medis

Rinoplasti Revisi2022.07.26

Bagaimana cara mengurangi ketidakpuasan dan efek samping dari operasi revisi hidung yang kian meningkat?

Klinik Bedah Plastik SH

Beberapa tahun lalu, pernah dirilis hasil survei yang menunjukkan bahwa 40% orang berusia 20-an memiliki pengalaman menjalani operasi plastik atau prosedur kecantikan.

Sejak saat itu, jumlah tindakan operasi plastik semakin meningkat dan kini dianggap sebagai cara untuk membantu mengatasi rasa minder terhadap penampilan luar atau memperbaiki fungsi bagian tubuh tertentu.

Di antara berbagai bagian seperti mata, hidung, rahang, dahi, dan lainnya, hidung merupakan organ yang dapat memberikan perubahan penampilan yang signifikan meski hanya dengan sedikit modifikasi,

sehingga mencatat jumlah operasi terbanyak setelah operasi mata.

Hidung yang terletak di tengah wajah menentukan keseluruhan kesan dan aura wajah tergantung pada bentuk, sudut, dan ketinggiannya.

Hal ini dikarenakan meski bentuk wajah sama, bentuk hidung dapat membuat wajah terlihat lebih tirus, tajam, atau memberikan citra yang lebih lembut.

Di sisi lain, operasi hidung juga tergolong sebagai operasi plastik dengan tingkat ketidakpuasan dan operasi revisi yang tinggi.

Karena berada di area tengah wajah, kepuasan pasien akan menurun jauh lebih drastis dibandingkan bagian lain jika hasil operasinya tidak memuaskan.

Oleh karena itu, para ahli menekankan perlunya kehati-hatian karena banyak kasus di mana operasi revisi hidung harus dilakukan berulang kali.

Penyebab utama operasi revisi hidung adalah ketidakpuasan terhadap hasil operasi, yaitu saat hidung dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah. Penyebab berikutnya adalah efek samping operasi hidung.

Contoh kasus efek samping meliputi peradangan akibat implan buatan yang tidak menyatu dengan baik di hidung, serta rangsangan dari operasi dan luka

yang menyebabkan kontraktur hidung, di mana jaringan hidung mengeras. Selain itu, ada juga masalah implan yang membayang/terlihat dari luar, implan bergeser, hingga perubahan bentuk.

Para dokter spesialis bedah plastik menekankan bahwa prioritas utama dalam operasi revisi hidung adalah mengidentifikasi penyebab ketidakpuasan atau kegagalan dari operasi pertama.

Menurut Kim Sung-hoon, kepala dokter di Klinik Bedah Plastik SH, operasi revisi hidung memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan operasi pertama,

sehingga fungsi dan estetika hidung harus dipertimbangkan dengan lebih matang.

Inilah alasan diperlukannya proses pemeriksaan mendalam untuk menganalisis bentuk, kondisi, dan ukuran tulang hidung serta jaringan lunak di sekitarnya menggunakan 3D-CT (Computed Tomography) guna memeriksa

kondisi hidung secara saksama, termasuk ada tidaknya kontraktur dan peradangan.

Pemilihan material juga harus dilakukan secara cermat demi meningkatkan kepuasan dan mengurangi risiko efek samping pascaoperasi revisi.

Karena material yang digunakan untuk operasi hidung sangat beragam, seperti tulang rawan (tulang rawan telinga, tulang rawan septum, tulang rawan iga), cangkok lemak dermis, silikon, Gore-Tex, Alloderm, dan sebagainya,

maka kesesuaian material tersebut dengan pasien harus dipastikan secara teliti.

Dokter Kim menyarankan, "Mengingat hidung berada di tengah wajah, desain yang alami dan sesuai dengan proporsi wajah sangatlah penting dalam operasi hidung.

Pada operasi revisi pun, rencana bedah yang sistematis harus dibuat agar dapat memperbaiki aspek estetika sekaligus fungsionalnya."

Beliau juga menambahkan, jika merencanakan operasi revisi, idealnya dilakukan setelah melihat perkembangannya sekitar 6 bulan pascaoperasi pertama.

Sumber: Medical Tribune (http://www.medical-tribune.co.kr)

Info medis berikutnya

[Lihat detail]